aaiil.org

|| aaiil.org || || aaiil.org || || aaiil.org || || aaiil.org || || aaiil.org || || aaiil.org ||


Kindly click on 'File' on the browser's menu bar, and select 'Print...' to get a print-out of this page.

This page was printed from the 'Official Website of the Ahmadiyya Anjuman Isha'at-e-Islam Lahore (Lahore Ahmadiyya Movement for the Propagation of Islam)'
located at
http://aaiil.org or http://www.aaiil.org
Click on the above links to go to our homepage, if you reached this page through a search engine.

This is a 'printer-friendly' page, to see the original version of this page kindly
click here.
The Indonesian Lahore Ahmadiyya Website > Indonesian Books Section > Anwaar-ul-Quran [Commentary of the 30th Part/Paaraa of the Holy Quran by Dr. Basharat Ahmad] > Chapter 78 (An-Naba - Pemberitahuan)

Commentary of Chapter 78 (An-Naba - Pemberitahuan) of the Holy Quran:
by Dr. Basharat Ahmad
Indonesian Translation by Imam Musa Prodjosiswojo and Bambang Dharmaputra


Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih.

01. Tentang apakah mereka saling bertanya?
02. Tentang pemberitahuan yang agung,
03.Yang mereka berselisih tentang itu.
04. Tidak, mereka akan segera mengetahui.
05. Sekali lagi, tidak, mereka segera akan mengetahui.
06. Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan,
07. Dan gunung-gunung sebagai pasak?
08. Dan Kami menciptakan kamu berpasang-pasang.
09. Dan Kami membuat tidur kamu untuk istirahat.
10. Dan Kami membuat malam sebagai penutup.
11. Dan Kami membuat siang untuk mencari mata penghidupan.
12. Dan Kami membuat tujuh (benda) yang kuat di atas kamu.
13. Dan Kami membuat lampu yang bersinar,
14. Dan Kami menurunkan dari awan air yang turun dengan lebat.
15. Agar dengan itu Kami menumbuhkan biji-bijian dan rumput-rumputan.
16. Dan taman-taman yang rimbun.
17. Sesungguhnya hari Keputusan telah ditentukan.
18. Pada hari tatkala terompet ditiup, maka datanglah kamu berbondong-bondong.
19. Dan langit dibuka, maka jadilah itu seperti pintu.
20. Dan gunung-gunung digerakkan, maka jadilah itu fatamorgana.
21. Sesungguhnya Neraka siap menanti.
22. Suatu tempat peristirahatan bagi orang-orang durhaka.
23. Bertinggal di sana bertahun-tahun lamanya.
24. Di sana mereka tak akan merasakan kesejukan dan tak (merasakan pula) minuman.
25. Kecuali air mendidih dan air yang keliwat dingin.
26. Suatu pembalasan yang setimpal.
27. Sesungguhnya mereka dahulu tak takut akan perhitungan.
28. Dan mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan.
29. Dan segala sesuatu Kami tuliskan dalam buku.
30. Maka rasakanlah, karena Kami tak menambahkan apa pun kepada kamu selain siksaan.
31. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa akan memperoleh keberhasilan.
32. Taman-taman dan kebun anggur,
33. Dan (teman) yang muda-muda yang sebaya umurnya,
34. Dan gelas yang suci
35. Di sana mereka tak akan mendengar cakap-kosong, dan tak pula cakap dusta,
36. Ganjaran dari Tuhan dikau, suatu pemberian yang cukup.
37. Tuhannya langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya; Tuhan Yang Maha-pemurah; mereka tak mampu berbicara dengan Dia.
38. Pada hari tatkala Ruh dan Malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tak bercakap-cakap kecuali orang yang diberi izin oleh Tuhan Yang Maha-pemurah, dan ia berkata benar.
39. Itulah Hari yang Benar, maka barangsiapa menghendaki, ia boleh mengambil perlindungan kepada Tuhannya.
40. Sesungguhnya Kami memperingatkan kamu tentang siksaan yang sudah dekat pada hari tatkala orang melihat apa yang telah ia lakukan oleh tangannya dahulu; dan orang kafir akan berkata: Aduh, sekiranya aku dahulu debu!

Surat ini adalah suatu wahyu Mekkah permulaan yang menekankan segi bahwa manusia itu diciptakan untuk beramal di dunia ini dan bahwa balasan atas amal perbuatannya itu, apakah itu berupa ganjaran atau siksaan, adalah hal yang tak terhindarkan.

Kini, akibat dari setiap dosa atau pelanggaran, merajalelanya materialisme atau kemasa-bodohan, berasal dari kenyataan bahwa manusia itu tidak ada keyakinan di hatinya bahwa perbuatannya akan berbuah di kelak kemudian hari. Sebaliknya, bila dia sepenuhnya yakin bahwa seluruh kata-kata dan amal perbuatannya, saat-saat dia beristirahat serta gerak-geriknya akan meninggalkan suatu kesan permanen dan akibat yang berkepanjangan, maka pasti dia akan sangat berhati-hati atas segala apa yang dikatakan dan diperbuatnya.

Misalnya, bila seseorang itu punya sedikit saja kecurigaan bahwa dalam makanannya mungkin beracun yang bisa membawa akibat sakitnya atau bahkan bisa menyebabkan kematiannya, maka lihatlah betapa cepatnya dia akan menarik tangannya dari situ! Jadi mengapa kemudian, dia tidak mencoba menghindar dari racun perbuatan jahat dengan kecepatan yang sama? Adalah cukup jelas dari sini bahwa satu-satunya alasan kenapa dia bertahan dengan kelakuan jahatnya adalah karena dia tidak yakin bahwa perbuatannya itu akan menimbulkan pembalasan yang pasti. Jika dia benar-benar yakin atas kenyataan ini, maka dia akan sangat berhati-hati dalam segala tindak-tanduknya.

Maka kita bisa melihat, betapa tugas para nabi itu adalah suatu yang sangat rumit, karena suatu hal yang harus dikerjakannya yalah memberi manusia itu ilmu dan petunjuk yang memungkinkan dia membuat kemajuan dan mencapai kesempurnaan serta mendapatkan keridlaan Allah. Mereka juga harus menekankan kepada fikiran umat atas fakta bahwa amal-perbuatan itu mengandung konsekwensi dan bahwa manusia harus berdiri di hadapan Allah pada kehidupannya di masa datang, yang abadi, dan memberikan pertanggung-jawaban atas kelakuannya di dunia ini, karena kenyamanan atau penderitaannya itu terikat dengan amalnya. Jadi, ini adalah berita besar di mana para nabi berikan kepada dunia dan karena alasan inilah maka mereka itu disebut nabi.

Naba’ merujuk kepada pengumuman yang berisi manfaat luar-biasa kepada umat. Kata depan alif lam digunakan di sini untuk menunjukkan bahwa ini adalah suatu pengumuman khusus di mana Nabi Suci s.a.w. telah datang ke dunia ini untuk memproklamasikan kepada orang-orang, bahwa berita khusus itu adalah peringatan bahwa suatu hari pasti akan tiba dimana manusia akan menjadi saksi atas amal perbuatannya.

Kualifikasi kata ‘azim(kuat) menunjukkan fakta bahwa ini bukanlah suatu pengumuman yang lunak melainkan suatu saat tunggal dimana bergantung masa depan manusia itu yakni kedamaian ataukah kesengsaraan. Ide-nya adalah untuk menekankan ke fikiran manusia betapa pentingnya amal perbuatannya.

Pengumuman yang menggentarkan ini adalah apa yang oleh Quran Suci beberapa kali disebut sebagai Sa’ah. Yakni, ini adalah waktu yang sudah ditetapkan dimana manusia akan melihat dengan mata-kepalanya sendiri pembalasan atas tingkah-lakunya dan saat itu akan tiba setelah kematiannya ketika akibat dari seluruh amal perbuatannya akan diperiksa dengan sangat cermat.

Betapa pun, ketika berita ini merupakan satu yang istimewa dan luar biasa penting yang diperkirakan untuk menjadi dasar manusia dalam melakukan perbuatan baik dan menyuntikkan dalam hatinya konsep pertanggung-jawaban, karena itu, Allah Yang Maha-tinggi, guna menggaris-bawahi kepastian atas proklamasi ini, telah menunjukkan masa kehidupan setiap nabi besar sebagai suatu pandangan awal atas Sa’ah yang dijanjikan ini. Yakni, suatu gambar miniatur dari Sa’ah ini diberikan kepada manusia sepanjang masa kehidupan setiap nabi di mana kebaikan dan keburukan mendapatkan pembalasan yang setimpal di dunia fana ini, karena Allah ingin menekankan kenyataan bahwa setiap perbuatan itu mengandung konsekwensinya masing-masing. Sebagai akibatnya, bila Allah menghendaki, Dia memperagakan suatu contoh aatas hal itu kepada dunia ini sehingga hal itu bisa menjadi suatu bukti akan Akhirat.

Jadi, di zaman setiap nabi, apa pun juga manifestasi dari akibat atas perbuatan itu diberikan kepada umat di dunia ini diadakan agar hal itu dapat membentuk suatu tanda-bukti yang nyata atas kebenaran Akhirat. Bila hal ini dianggap sebagai suatu mukjizat dari nabi maka mungkin hal itu tepat, karena tujuan sesungguhnya di belakang turunnya para nabi adalah agar manusia mengembangkan suatu keyakinan yang tak tergoyahkan atas kehidupan sesudah mati, dan, menjadi sadar atas tanggung-jawabnya terhadap amal-perbuatannya, dia bisa memilih untuk menjalani kehidupan yang tulus. Untuk mendorong keyakinan ini jauh ke lubuk hati manusia, Quran Suci berulang-kali menceriterakan kisah kehidupan dari banyak nabi-nabi di saat mana konsekwensi atas amal-perbuatan itu dengan jelas bisa disaksikan.

Quran Suci itu bukan sebuah kitab dongengan. Tujuan utama dari kisah di dalamnya adalah menancapkan dalam fikiran kita pelajaran berikut ini: seperti halnya Sa’ah itu datang melintas di dunia ini, dalam ukuran kecil, di masa hidup setiap nabi, dan baik kebajikan maupun kejahatan diberikan ganjarannya yang setimpal dalam batas tertentu pada kehidupan fana ini, maka, demikian pula, suatu hari akan tiba dimana, dalam ukuran yang lengkap dan sempurna, amal-perbuatan akan dipertanggung-jawabkan dan manusia akan menerima balasannya sepenuhnya.

Secara umum dikatakan, karena akibat dari kelakuan kita itu tersembunyi dari mata manusia di dunia ini, dan karena kecerdasan manusia itu tidak mampu untuk menggapai setiap aspek dari realitas ini, karenanya, adalah penting bahwa beberapa bagian dari tabir itu harus dikuakkan pada masa hidup seorang nabi sehingga ilmu yang benar, serta realisasi dari akibat perbuatan itu bisa dialirkan ke hati manusia. Jadi, inilah mukjizat kenabian itu yang bersinar bagaikan suatu tanda yang berkilauan atas kenabian dari setiap nabi.

Pada masa Nabi Musa a.s., tirani dari Fir’aun serta kehancurannya akibat perbuatan dosanya dan pembebasan dari Nabi Musa a.s. serta para pengikutnya membangun suatu manifestasi dari ilham yang menggetarkan atas keajaiban kenabiannya. Tetapi keindahan dan keagungan tertinggi dari keajaiban ini terjadi pada masa kehidupan Nabi Muhammad s.a.w. pada saat akibat dari kebaikan dan kejahatan itu begitu jelas diperagakan sehingga hasil dari hal ini yalah tiadanya keraguan yang tersisa dalam fikiran manusia menyangkut datangnya Sa’ah di mana konsekwensi amal-perbuatan itu terlihat nyata. Mengenai peristiwa ini, tujuannya, yakni suatu pengumuman yang menggetarkan, diberikan untuk hal itu agar manusia diingatkan sebelumnya terhadapnya dan bagi mereka berusaha untuk memperoleh suatu ilmu yang lebih mendalam tentangnya. Namun, pada saat pengumuman yang menggetarkan ini diproklamirkan kepada manusia di dunia, kelakuan jahat dan kelalaian mereka telah mencegah hatinya dari menerima hal itu dan menyerah dengan tulus pada pengumuman ini. Sebaliknya, mereka mulai mereka-yasa segala macam pertanyaan mengenai hal itu. Sebagai suatu kesimpulan, surat ini mulai dengan menggelar pertanyaan di maksud:

RUKUK 1

1. Tentang apakah mereka saling bertanya?
2. Tentang pemberitahuan yang agung,
3.Yang mereka berselisih tentang itu.
4. Tidak, mereka akan segera mengetahui.
5. Sekali lagi, tidak, mereka segera akan mengetahui.

Ayat-ayat ini mempertanyakan ketika kaum kafir bertanya atas proklamasi yang diumumkan Nabi Suci ke dunia. Dalam frasa Yang Maha-kuasa ini, tersirat suatu implikasi penting dari keheranan bercampur dengan kegeraman, suatu alasan bahwa berita ini bukanlah suatu perkara biasa yang bisa disisihkan oleh mereka dengan membuat-buat alasan yang lemah dan keberatan yang konyol. Sebaliknya, ini adalah suatu hal yang harus diperhatikan oleh mereka agar bisa memperbaiki kelakuannya. Tetapi, mereka malahan membangkitkan berbagai macam keberatan yang mentertawakan.

Mereka kemudian dinasehati agar menyimak sekali lagi, karena Sa’ah itu akan segera tiba di saat mereka akan mengetahuinya melalui pengalaman praktis atas kebenaran dari proklamasi ini. Dengan perkataan lain, mereka akan mengetahuinya dengan keyakinan ilmu pada waktu mereka dipaksa untuk menghadapi pembalasan atas tingkah-laku mereka.

Di sini, kata-kata: mereka seegera akan mengetahui, digunakan dua kali, mungkin sebagai suatu tekanan yang kuat bahwa mereka akan menghadapi konsekwensi amal-perbuatan mereka dua kali, pertama di dunia ini dan sesudahnya sepenuhnya di Akhirat nanti di mana di sana tak akan ada sedikit pun kesempatan bagi mereka untuk menunjukkan keberatannya.

Ini adalah suatu nubuat yang sangat kuat dan menakutkan. Mereka dengan jelas diberi-tahu bahwa mereka menentang kebenaran namun suatu hari pasti akan tiba dimana mereka harus menjawab atas kelakuan mereka itu baik di dunia ini maupun dalam kehidupannya nanti.

Setelah ini, mereka diperingatkan atas penolakannya terhadap risalah Nabi Suci, yang menjadi kesalahan mereka, karena bila setiap benda di alam semesta ini diciptakan demi tujuan yang pasti, yang dapat dengan jelas dilihat oleh setiap orang, lalu bagaimana mereka bisa tidak menyadari bahwa manusia itu juga diciptakan demi tujuan yang agung? Manusia itu tidak dilahirkan secara kebetulan. Bila dia adalah sebagian dan obyek dari seluruh penciptaan, lantas bagaimana mungkin mereka diciptakan tanpa suatu tujuan yang istimewa? Dari sini kita dapat melihat bahwa penciptaan manusia itu mempunyai suatu tujuan yang pasti yang menjadikan dia harus bertanggung-jawab atas tingkah-lakunya. Sebagai kesimpulan, segala sesuatu itu periksalah satu demi satu untuk menarik perhatian kita terhadap fakta bahwa bila bumi dan langit serta segala sarana dimana kelahiran dan persediaan bagi manusia itu digantungkan; mereka itu mempunyai suatu tujuan yang harus dipenuhi; maka bagaimana bisa bahwa penciptaan manusia itu tanpa tujuan? Quran Suci selanjutnya menerangkan:

6. Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan?

Mihad (hamparan) berarti suatu tempat yang disiapkan, atau suatu tempat dimana orang bisa bergerak. Ardh (bumi) menunjukkan suatu obyek yang bergerak.

Almarhum Hazrat Maulana Nur-ud-Din menafsirkan, bahwa kata ardh (bumi) berarti suatu obyek bergerak yang perputarannya tidak dapat dilihat karena kecepatannya. Adalah suatu pengalaman biasa bahwa bila suatu obyek yang bulat, misalnya gasing, diputar, dan anda meletakkan sesuatu padanya, maka tak mungkin dia bertahan sedetik pun. Karena keecepatan perputarannya, maka benda itu akan terlempar jauh dalam sekejap mata. Bandingkanlah ini dengan sikap dimana Allah Yang Maha-tinggi, di samping kecepatan dari revolusi bumi, telah menjadikannya suatu tempat istirahat untuk kita; yakni bukannya kita terlempar jauh ke ruang angkasa, melainkan kita bisa hidup di atasnya dengan damai dan nyaman. Selanjutnya, lihatlah betapa di alam semesta yang maha luas ini, bumi seperti buaian bagi kita, lengkap dengan mataaharinya sendiri yang bersinar secukupnya untuk kita dari segala jurusan. Bila kita ingin bukti selanjutnya betapa bumi ini seperti permadani yang digelar buat kita, maka lihatlah sepintas ke samudera. Sejauh mata memandang, dia terlihat rata seperti piring dan di samping kebulatannya, maka tak ada penghalang bagi kita untuk bergerak bebas dan mudah di sana. Jadi, kita harus bercermin kepada kenyataan bahwa meskipun bumi itu bulat, atau agak lonjong, ini adalah karpet; dia bergerak, dia berayun seeperti buaian, tetapi kemana pun kita pergi, kita bisa menemukan suatu tempat untuk beristirahat dan damai. Dari sini, kita dapat membuat deduksi yang jelas bahwa ada tujuan pasti di balik terciptanya bumi ini.

7. Dan gunung-gunung sebagai pasak?

Di sini, kata autad (pasak) digunakan dalam arti kiasan yakni fungsi suatu pasak dengan dipakukannya pada suatu benda agar dia tetap di tempatnya, maka begitu pula yang dilakukan oleh pegunungan ini yang memaku bumi agar teguh-kuat. Peneliti ilmiah telah membuktikan, bahwa dalam awal penciptaannya, bumi ini adalah benda cair yang panas dan pipih. Dia kemudian mendingin dan permukaannya mengeras menjadi suatu massa yang solid. Namun, karena keraknya itu secara nisbi lebih pipih dibandingkan dengan badan bumi, karenanya, dia bergerak di atas massa yang indah, warna-warni, dan cair bagaikan sebuah perahu yang dihantam gelombang serta bergerak ke sana ke mari oleh gempa yang berturut-turut dengan ajeg. Sebagai akibat dari gerak yang konstan ini, maka bumi tidak layak untuk di huni. Namun, dari gelombang massa yang pipih dan cair ini, terbentuklah gunung-gunung yang berfungsi sebagai jangkar untuk menghentikan gerak bumi ini dan menjadikannya layak huni. Pendeknya, dalam pembentukan gunung-gunung yang mengikat bumi seperti paku dan membuatnya diam serta cocok untuk kehidupan, maka ada suatu indikasi yang meyakinkan bahwa Sang Pencipta telah mempunyai suatu rencana khusus dalam menciptakan gunung-gunung ini. Penciptaan mereka bukanlah perkara omong-kosong. Sebaliknya, dia mengandung suatu tujuan yang besar.

8. Dan Kami menciptakan kamu brpasang-pasang.

Setelah penciptaan bumi dan pegunungan, maka hadirlah umat manusia. Penciptaan manusia secara berpasangan adalah demi kesinambungan jenisnya. Tetapi setiap orang yang diberi kecerdasan dapat memperkirakan bahwa penciptaan secara berpasangan itu memerlukan fihak ketiga yang harus memiliki kebijaksanaan serta kekuatan yang besar. Dua makhluk yang berbeda diciptakan dan masing-masing mengandung emosi yang saling mengisi yang dapat memenuhi kebutuhan dan tujuan terdalam satu sama lain! Selanjutnya, penciptaan manusia dan penyediaan saraana demi kelangsungannya menunjukkan kesimpulan yang lain: bahwa Dzat Yang menciptakan haruslah Pemilik dari kekuatan Yang Maha-besar, Yang, dengan kebijaksanaan dan rahmat-Nya yang tak terbatas, menciptakan satu golongan demi golongan lainnya dan bahwa Dia mempunyai tujuan pemikiran yang besar dengan penciptaan yang mengagumkan ini.

9. Dan Kami membuat tidur kamu untuk istirahat.

Setelah bicara mengenai penciptaan manusia dan kesinambungan jenisnya, Allah Ta’ala sekarang meminta perhatian atas ketahanan pribadinya. Di permukaan, tidur itu seolah perkara tak berguna yang nampaknya untuk menghabiskan waktu saja. Namun, kita diberitahu di sini bahwa adalah suatu tujuan yang mendalam di balik tidur itu karena tanpa hal itu maka manusia tak bisa bertahan, ataupun bisa melakukan pekerjaan di dunia. Karena demi kelangsungan hidupnya, dia memerlukan istirahat setelah bekerja dan tidak ada sarana yang lebih baik untuk beristirahat selain tidur. Dalam pengobatan, tidur bagi seorang pasien dipandang setengah dari pengobatan. Bila manusia itu tidak bisa beristirahat pada waktu malam, dia tidak akan merasa segar untuk bekerja pada esok harinya. Keletihan yang datang dari kerja seharian dan kelelahan yang masuk ke fikiran begitu pula kaki-tangan dan anggota badan yang lain bisa disingkirkan dengan istirahat yang akan menghilangkan segala kelelahan serta kehilangan tenaganya.

Setiap organisme hidup yang bekerja di dunia ini membutuhkan istirahat setelah bekerja. Pepohonan, tanaman, binatang, burung-burung, semuanya beristirahat dengan cara masing-masing, dan mereka tidur juga, dan hanya setelah ini mereka dapat kembali bekerja. Pertimbangkan pula, jantung manusia yang seolah bekerja tanpa henti. Bila jam kerja dan istirahatnya terukur, teranglah bahwa sepanjang duapuluh empat jam, dia bekerja penuh selama sembilan jam dan bersantai selama limabelas jam.

Apakah tidur itu? Ini adalah nama lain untuk mereposisikan lagi otak serta organ tubuh lainnya yang bekerja di bawah perintah otak. Jadi ini adalah suatu mekanisme yang membuat manusia segar kembali untuk bekerja pada hari berikutnya.

Jadi, yang lebih penting dari konsep tidur itu sendiri adalah fakta bahwa ini membangun tanpa keraguan bahwa Sang Pencipta itu adalah Dzat Maha-perkasa Yang maksudnya tidak hanya menciptakan manusia, melainkan juga membekali untuk kehadirannya, karena Dia telah menciptakan tidur untuk tujuan khusus yang menjamin kelangsungan hidup manusia.

10. Dan Kami membuat malam sebagai penutup.

Penciptaan malam pun, mempunyai maksud yang psti. Kegelapan menurunkan tabir terhadap segala sesuatu, dengan akibat bahwa pusat otak itu yang secara konstan menerima rangsangan terus-menerus yang disajikan oleh mata serta indera yang lain sekarang mendapat kesempatan untuk beristirahat, yang tak diperolehnya pada siang hari. Inilah sebabnya kenapa istirahat yang diperoleh otak dalam kegelapan begitu pun kenyamanan sempurna yang diserap dari tidur tidak dapat diperoleh bila masih ada cahaya. Jadi, malam dengan kegelapan sebagai akibatnya adalah tak ternilai dalam mengembalikan kesegaran fikiran dan anggota tubuh manusia.

Seringkali, keadaan memaksa kita agar tetap terjaga pada waktu malam, tetapi betapa pun kita ingin memulihkan tidur pada siang hari, kita tak pernah memperoleh kualitas tidur yang sama seperti yang kita terima pada waktu malam. Inilah sebabnya mengapa para dokter menekankan agar ada kegelapan pada waktu kita tidur, karena bila tetap ada cahaya maka pupil mata itu tidak dapat melebar sehingga otak tidak sepenuhnya beristirahat. Jadi, penciptaan malam itu bukanlah perkara main-main. Sesungguhnya, dalam penciptaan malam sebagai selimut, terdapat kebijaksanaan yang besar. Di bawah selimut ini, tanaman serta binatang yang begitu penting demi kelangsungan hidup manusia, semua menemukan istirahatnya. Manusia sendiri membutuhkan selimut kegelapan demi kewajibannya yang sesungguhnya halal, tetapi yang tidak boleh ditunjukkan secara umum sesuai dengan norma kesantunan, kehormatan dan kebudayaan.

Pendeknya, malam dengan jelas mengakhiri usaha dan karya manusia sepanjang hari dan menghantar selimut tidur dan kelelapan. Tetapi bila kita bercermin mendalam dan menimbang manfaatnya yang bermacam-macam, kita akan terkejut dengan penuh keheranan dan kekaguman.Karena, tersembunyi di balik penciptaan malam adalah suatu maksud yang sangat penting dari Sang Pencipta yang berpengaruh demi kemaslahatan umat manusia.

11. Dan Kami membuat siang untuk mencari mata penghidupan.

Setelah malam dengan pemulihan yang nyaman, Allah Ta’ala menciptakan siang untuk bekerja sehingga manusia dapat memperoleh sarana untuk penghidupannya. Kita bisa menyediakan segala macam malam buatan, tetapi sifat istimewa dari siang hari dan kedermawanannya yang universal tak dapat diperoleh di manapun. Orang-orang yang paling kaya maupun yang paling miskin keduanya mendapat manfaat dari siang hari ketika mereka berusaha keras dan lama dalam mencari santunan hariannya. Karena itu, betapa jelasnya maksud Sang Pencipta yang mengungkap hadiah berupa siang hari ini!

Sebagai sumber cahaya adalah matahari; sekarang perhatian kita geser kepada anugerah dari langit.

12. Dan Kami membuat tujuh (benda) yang kuat di atas kamu.

Apakah benda-benda kuat yang dibangun Allah? Dia berfirman bahwa mereka itu di atas kita. Jelaslah bahwa ini merujuk kepada langit, tetapi di sini kata langit dihilangkan dan hanya kata: diatas kalian, yang digunakan. Maksudnya yalah menjelaskan kepada kita bahwa bila kita menginginkan suatu gambaran dari langit, kita dapat memperolehnya dari ungkapan di atas kalian. Dengan kata lain, langit itu di atas kepala kita. Suatu penjelasan yang lebih ilmiah dan otentik dari langit itu tak diperoleh. Menurut ilmu pengetahuan, bila kita berdiri di bumi, maka kaki kita akan selalu menunjuk ke pusat bumi yang di sebut "bawah" (taht).

Jadi, gambaran ilmiah dari langit adalah "apa yang di atas kita". Kata shidad (kuat) digunakan untuk menunjukkan apa pun ciptaan di atas manusia itu sangat kuat dan mustahil ada celah di dalam pengaturannya. Harus kita ingat bahwa kata shidad dan shadid (kuat) tidak selalu merujuk kepada sesuatu yang solid atau kompak. Misalnya, bila kita katakan bahwa sakit flu itu shadid (keras), atau demamnya shadid (kuat), kita tidak mengartikannya untuk benda padat. Lagi, bila kita katakan bahwa komposisi sesuatu itu kuat, maka kata shiddat (kuat) tidak dibatasi pada obyek material melainkan ini mengandung arti berbeda sesuai dengan konteks yang digunakan. Di sini pada waktu kekuatan dari langit itu ditunjukkan, rujukannya yalah kepada tenaga dan kekuatan dari sistem ruang angkasa yang tak seorang pun bisa membalikkannya.

Kata sab’an (tujuh) memberi tahu kita bahwa ada tujuh langit dan informasi ini diberikan kepada manusia hanya dari Allah Ta’ala. Pengetahuan ilmiawan itu terbatas dan meskipun mereka bekerja sampai batas kemampuannya, dan setiap hari membuat kemajuan yang segar, serta menemukan teleskop yang lebih baru dan kuat melalui mana mereka bisa menemukan bintang baru serta sistem galaksi yang baru, mereka semua sepakat atas apa yang ditemukan sejauh ini dari alam semesta, khususnya, dari bukti cahaya bintang serta pengaturannya, bahwa langit itu bisa dibagi menjadi tujuh bagian. Dengan perkataan lain, mereka mengatakan hal yang sama dengan Quran Suci yang telah menyebutkannya lebih dari seribu empatratus tahun yang lalu. Namun, Quran Suci menyatakan sesuatu yang lebih lagi yakni: "Sesungguhnya Kami menghiasi langit lapisan bawah dengan hiasan bintang-bintang" (37:6).

Dari sini bisa kita kumpulkan bahwa langit yang kita amati berhiaskan bintang-bintang dan di mana mempunyai hubungan dengan planet kita, Bumi, disebut langit bawah. Atau, hal ini disebut demikian karena dibandingkan dengan langit ruhani, maka langit ini adalah langit yang rankingnya lebih rendah, dan di samping langit ini dan yang berkaitan dengannya adalah tujuh langit lain di mana, atas sifat mereka yang spiritual, menjadi tempat tinggal dari malaikat serta ruh dan yang bersangkut-paut dengannya; maka tujuh langit yang berisi bintang-bintang ini mendapatkan rancang bangun sebagai langit bawah.

Ketika langit di sebut di sini dalam hubungannya dengan planet kita, ini disebut langit bawah dan ini mengacu kepada tujuh bagian atau tujuh langit. Bila kita tidak memiliki langit ini serta pengaturan yang mengiringinya, maka kita akan tidak punya matahari yang menjadi sumber segala cahaya serta seluruh kehidupan lahiriah. Sebagai kesimpulannya, Quran Suci menyatakan dalam ayat selanjutnya:

13. Dan Kami membuat lampu yang bersinar.

Wah-haj berarti yang memberi cahaya dan panas. Matahari diciptakan untuk menyediakan bagi manusia dengan sinar dan kehangatan atas mana bergantung kehidupan seluruh manusia dan binatang. Dari cahaya ini, juga, kita mendapatkan siang hari di mana manusia dapat mengusung semua urusan bisnisnya. Bagaimana pun, setelah istirahat, jika manusia tidak mempunyai biji-bijian dan buah-buahan serta lain-lain persediaan, dia akan tidak memiliki sumber ketahanannya dan pasti akan mati. Demi makanan biji-bijian dan buah-buahan, kita memerlukan air dan demikianlah Quran Suci berkata:

14. Dan Kami menurunkan dari awan air yang turun dengan lebat.

Mu’sirat berarti awan hujan di mana thaj-jaj berarti air yang tercurah dengan melimpah.

Panas matahari menimpa laut dan menyebabkan uap air membubung serta membentuk awan dari mana kita mendapatkan hujan yang membasahi bumi. Tujuannya diungkapkan dalam ayat-ayat berikut:

15. Agar dengan itu Kami menumbuhkan biji-bijian dan rumput-rumputan.
16. Dan taman-taman yang rimbun.

Langit dan bumi keduanya bergabung untuk melayani manusia. Disebabkan cahaya mentari, uap air naik. Ini sebaliknya menyebabkan perubahan dalam arah angin dan hujan turun dengan akibat benih menjadi tumbuh begitu pula sayuran dan buah-buahan yang bisa dimakan yang adalah bahan bahan yang sangat diperlukan dimana hidup serta kesejahteraan manusia itu bergantung. Jadi, penciptaan langit dan mentari, bertiupnya angin dan jatuhnya hujan, tumbuhnya biji-bijian, sayuran dan buah-buahan, semuanya, dari kehadiran mereka masing-masing, mengungkapkan suatu tujuan khusus atas penciptaannya. Semuanya ini dengan jelas menyatakan kepada kita bahwa Pencipta mereka, dalam membawakan kehadiran semua makhluk ini, telah mempunyai rencana pasti dalam fikiran-Nya yakni dalam penciptaan manusia, bahan persediaan serta kesinambungan dari jenis(species)-nya.

Sekarang, bila penciptaan dari segala benda di atas juga memiliki tujuan atasnya, yakni demi kelahiran, persediaan serta kelangsungan hidup manusia, maka jelaslah bahwa penciptaan manusia sendiri juga mempunyai suatu tujuan yang pasti. Adalah mustahil untuk mengira bahwa setiap ciptaan di dunia ini mempunyai tujuan khusus kecuali penciptaan manusia yang merupakan mikrokosmos dari segenap makhluk ciptaan. Jika penciptaan seorang manusia itu tak ada maksudnya, maka berikutnya adalah bahwa penciptaan segala sesuatu yang disebut di atas tidak ada gunanya pula. Namun, ini adalah jalan fikiran yang salah.

Segala sesuatu yang diciptakan mempunyai suatu tujuan bagi penciptaannya dan dengan merenung atas fakta ini, menjadi sangat gamblang bahwa segenap ciptaan ini adalah partner dalam satu tujuan tunggal yang besar dan ini adalah demi melayani manusia. Karena itu, penciptaan manusia harus mempunyai suatu tujuan mulia yang melintasi dan mengungguli segala makhluk lainnya.

Manusia itu tidak diciptakan untuk dunia ini. Sebaliknya, dunialah yang diciptakan demi manusia. Karena itu adalah perlu, bahwa tujuan hidup manusia itu harus sedemikian rupa terpisah dari ciptaan selebihnya dan sifatnya yang berbeda secara mencolok yakni amal perbuatannya.

Manusia, dengan kemuliaannya dari tenaga kecerdasannya serta sifat memilah dan memilih, telah memiliki keunggulan yang menonjol di banding segala makhluk. Dia juga bertanggung-jawab atas kata-kata dan tingkah-lakunya. Adalah konsekwensi atas tindak-tanduknya inilah, yang berjalan di bawah hukum pertumbuhan dan perkembangan, yang bertanggung-jawab atas kemajuan serta penyempurnaan dari hidupnya di masa depan. Karena itu gambaran utama dari kehidupan manusia yakni pertanggung-jawaban atas amal-perbuatannya, akibat mana akan menjadi jelas pada suatu hari yang dirujuk sebagai hari Keputusan.

17. Sesungguhnya hari Keputusan telah ditentukan.

Dengan perkataan lain, alasan untuk penciptaan manusia akan dengan jelas diungkapkan pada hari di mana tanggung-jawab akan diminta atas perbuatan dan keputusan Allah akan dijatuhkan. Sesungguhnya, suatu saat yang pasti telah ditetapkan bagi manifestasi atas hasil perbuatan dan tibanya keadilan dari Allah, dan demi tujuan untuk memberi-tahu manusia atas hari yang sangat menentukan inilah maka pengumuman yang menggentarkan telah diberikan, sehingga manusia bisa berhati-hati sebelum Sa’ah ini tiba dan bisa menjadikan amal perbuatannya sebaik-baiknya.

Satu pergelaran atas hari Keputusan ini akan terjadi pada hari Kebangkitan, dimana manusia dari awal hingga akhir akan dikumpulkan. Pada hari itu, konsekwensi atas perbuatan ini akan disaksikan dengan jelas sepenuhnya dan tujuan penciptaan manusia akan diungkapkan seluruhnya. Namun, dalam ukuran kecil, kehidupan dari seorang nabi itu menyajikan suatu kesaksian dari hari Keputusan ini dan peristiwa ini tiba sebagai suatu tanda awal atas konsekwensi manusia atas perbuatannya. Dalam masa hidup Nabi Suci Muhammad s.a.w., keagungan dari hari Keputusan ini demikian kuatnya sehingga ini mengatasi dan mengungguli jauh melebihi setiap nabi lainnya dalam hal kejelasan dan bandingan keadilannya sehingga tidak meninggalkan sedikitpun keraguan atas pertanggung-jawaban manusia terhadap amal perbuatannya.

18. Pada hari tatkala trompet ditiup, maka datanglah kamu berbondong-bondong.

Ayat di atas berarti bahwa suatu hari akan tiba dimana trompet akan ditiup atau berbunyi. Tiupan trompet di sini digunakan secara kiasan, berarti bahwa di bawah perintah Allah, suatu revolusi besar akan terjadi. Suatu contoh atas hal ini adalah di medan perang ketika ada suatu perubahan dalam perencanaan dan suatu pasukan harus menggeser gerakan atau lokasinya, maka trompet ditiup dan akibatnya pasukan itu akan bergerak dari satu jurusan ke arah lainnya, atau melancarkan serbuan, atau mundur. Pendeknya, operasi di medan tempur itu berubah tergantung kepada perintah yang disalurkan melalui tiupna trompet.

Begitu pula, ketika perintah Allah diberikan dan trompet di tiup, keadaan alam semesta saat ini juga akan di rombak dan hari Kebangkitan akan tiba. Jadi, tiupan trompet dalam dunia lahiriah ini mempunyai suatu arti kiasan dalam menyatakan kepada kita atas perintah Allah Yang Maha-tinggi bahwa suatu transformasi yang kuat akan terjadi. Tujuan lain dari pengalaman metaforis ini ialah membuat jelas bahwa bila tanda tiupan trompet itu dibunyikan, maka bunyi itu bisa mencapai semua orang. Dengan cara yang sama, revolusi yang akan terjadi bila Allah menetapkan dekrit-Nya akan mencapai ke seluruh atom dari dunia ini, dan tak suatu pun yang bisa terbebas dari pengaruhnya. Maka, pada hari Kebangkitan, di saat perintah Allah yang meliputi seluruh ciptaan itu diberikan, maka akan ada suatu bunyi seperti dari sebuah trompet yang akan mencakup setiap atom di lam semesta ini dan segala sesuatu akan menunduk dalam ketaatan atas dekrit ini. Inilah hari Keputusan dimana manusia akan menghadirkan dirinya dalam kelompok untuk bertanggung-jawab atas perbuatan yang dijalaninya.

Malangnya, para ulama kita masa kini selalu memberikan penafsiran yang sangat membingungkan atas setiap pertanyaan. Mereka menyatakan, bahwa tiupan trompet itu berati malaikat Israfil akan memegang trompet di tangannya yang terbuat dari almunium atau tembaga dan dari alunan nadanya orang-orang akan dipanggil ke pengadilan. Ini jelas kepercayaan yang sesat. Israfil adalah malaikat dari dunia ruhani. Dia tidak punya tubuh jasmani sehingga tidak bisa membawa sebuah trompet di tangannya. Jelas bahwa trompet ini akan mengambil bentuk yang berasal dari mana malaikat itu datang. Dalam wilayah ruhani atau dunia perumpamaan, maka tiupan trompet itu berarti bahwa bila Allah menghendaki hadirnya transformasi, maka perintah itu akan disalurkan kepada ciptaan-Nya melalui instrumen malaikat, yakni Israfil, dan pengaruhnya adalah sangat cepat dan sempurna bagaikan alunan nada yang menyebabkan suatu perubahan atau pergerakan seketika di medan pertempuran.

Sungguh menyedihkan, namun seringkali ulama kita membuat kesalahan semacam ini yang cenderung menyesatkan pemuda kita yang berfikiran modern. Almarhum Maulana Hali, dalam kitabnya Life of Jawad (biografi Sayid Ahmad), menceriterakan peristiwa berikut ini: Dalam khutbah ‘Ied di Aligarh, Imam tersebut mencatat bahwa pada pagi hari ‘Ied, malaikat menyerukan panggilan sebagai berikut: "Wahai saudaraku kaum Muslimin, datanglah ke salat ‘Ied".

Ketika kembali dari salat ‘Ied, almarhum Maulana berkata bahwa dia mendengar para mahasiswa kolese memperolokkan pernyataan Imam tersebut, dengan menyatakan bahwa memang para malaikat telah menyeru dengan sangat indahnya, namun tak seorang pun yang bisa mendengarnya. Jadi, Imam itu telah memberikan kesempatan sepenuhnya kepada para mahasiswa itu untuk mentertawakan agama. Yakni, dia menerangkannya dengan cara yang bahkan nampak lucu buat kaum Muslimin.

Sangat terang benderang bahwa para malaikat itu bukanlah makhluk jasmani yang membuat pengumuman publik seperti manusia, dengan pergi dari satu tempat ke tempat lain sambil berteriak: "Wahai saudaraku kaum Muslimin, pergilah salat ‘Ied". Malaikat adalah penghuni dari kerajaan spiritual dan mereka tidak memukul genderang fisik. Ilham mereka merasuk ke hati manusia dan ditangkap tidak dengan telinga fisik melainkan dengan telinga ruhani.

Memang sungguh benar, bahwa pada pagi hari ‘Ied, orang yang paling jahat sekalipun, bahkan mereka yang tidak pernah salat satu kali pun sepanjang tahun akan siap dari awal untuk menjalankan salat ‘Ied yang tidak wajib melainkan sunnah. Bahkan untuk acara salat ini, kaum Muslimin membuat persiapan yang rinci dan menyeluruh yang tidak mereka lakukan pada waktu salat wajib. Pendeknya, rangsangan untuk salat ini yang menggairahkan hati setiap kaum Muslimin, yang baik ataupun yang jahat, pada pagi hari ‘Ied, pastilah suatu ilham dari malaikat yang begitu membumi, sehingga tak ada satupun rumah seorang Muslim yang terlewatkan dari daya tariknya. Jika ini bukan dari panggilan malaikat, lantas dari mana lagi?

Telah dijelaskan bahwa masa hidup seorang nabi adalah suatu miniatur dari hari Kebangkitan dalam ukuran kecil, dan dalam konteks ini, tiupan trompet terjadi pada zaman nabi dan ini menunjukkan berdirinya suatu transformasi yang teguh di dunia ini. Intensitas tiupan ini sebanding dengan kekuatan, keagungan dan kemuliaan ruhani dari nabi pada zamannya.

Begitulah, meskipun tiupan trompet itu sesungguhnya merujuk ke tiupan trompet yang akan terjadi pada hari Kebangkitan yang agung, tetapi hal itu bisa diterapkan kepada masa Nabi Suci dan suatu tanda dari revolusi yang kemudian terjadi. Pendeknya, tanda duniawi ini menyajikan suatu bukti atas tiupan dari trompet langit pada hari Kebangkitan dimana suatu revolusi yang menakjubkan akan terjadi sehingga pemandangan dari orang-orang yang datang berduyun-duyun untuk berdiri di hadapan Tuhannya akan terlihat sepenuhnya. Maka, dalam maasa kehidupan Nabi Suci s.a.w., saatnya telah tiba dimana seluruh dunia menyaksikan kebenaran dari ayat berikut dalam Quran Suci:

"Tatkala datang pertolongan Allah dan kemenangan.
Dan engkau melihat manusia masuk dalam agama Allah berbondong-bondong" (110:1-2).

Begitu kerasnya tiupan dari trompet Ilahi di jazurah Arabia sehingga manusia masuk dalam barisan Islam dalam jumlah besar dan pencerahan spiritual yang demikian sublim terjadi sehingga orang-orang itu yang tadinya menyingkirkan dan menolak Nabi Suci s.a.w. sekarang lebih dari gembira untuk menyerahkan dirinya untuk berbakti dan taat setia serta melayani beliau sepenuhnya.

19. Dan langit dibuka, maka jadilah itu seperti pintu.

Di sini, kata langit berarti pusat dari dunia ruhani. Langit bukanlah bangunan material diman pintu-pintunya bisa dibuka. Kata ini digunakan secara kiasan. Begitulah ketika sesuatu itu dibuka dan segala sesuatu dari dalamnya keluar tanpa hambatan, maka, begitu pula, kata ayat tersebut, langit akan dibuka, berarti bahwa malaikat akan turun; pertolongan dan tanda-bukti dari Allah akan turun seperti hujan; pintu-pintu ilmu Ilahi dan ilmu keruhanian yang tersembunyi akan dibukakan kepada manusia dan jalan untuk menggapai kedekatan dengan Yang Maha-kuasa akan menjadi terang buat semua orang.

20. Dan gunung-gunung digerakkan, maka jadilah itu fatamorgana.

Kata jibal berarti gunung-gunung dalam arti harfiah, tetapi ini digunakan untuk menunjukkan orang-orang kelas atas dan berkuasa, sedangkan secara kiasan, hambatan yang sulit didaki juga disebut gunung-gunung. Ayat di atas memberi tahu kita bahwa saatnya akan tiba dimana bala-bencana, yang sebesar gunung-gunung, aakan lenyap, dan para pemimpin yang sangat berkuasa dan di tingkat nasional yang tegak berdiri bak gunung dalam menentang tersebarnya Islam akhirnya akan tersingkir dan kebenaran akan bangkit menunju kemenangan.

Kita semua tahu bahwa pada hari Kebangkitan adegan sebagai berikut akan disaksikan: kelompok demi kelompok manusia akan berdiri dengan penuh ketakutan di hadapan Tuhannya menunggu pengadilan-Nya; pintu-pintu langit akan dibuka; para malaikat akan turun; semua rahasia langit akan dibuka; kesulitan besar seperti gunung akan lenyap dan kekuasaan orang-orang kuat akan dipatahkan.

Betapa pun, di dunia fana ini, sepanjang kehidupan Nabi Suci, adegan ini sungguh tergelar dengan agungnya: seluruh negeri, kabilah demi kabilah, menghadirkan dirinya di hadapan Nabi Suci untuk melayani dan mentaatinya dalam Islam; tanda-tanda dan pertolongan dari langit turun secara melimpah; pintu ilmu keruhanian digelar terbuka; hambatan yang paling unggul pun bisa ditiup jauh-jauh; orang-orang kuat dihinakan - semuanya ini membentuk bukti yang tidak terbantah atas hari Kebangkitan yang agung, yakni, hari dimana kebaikan dan kejahatan akan diganjar setimpal.

Karena itu, kita diberitahu bahwa semua perkara ini akan tergenapi - masalah yang akan berlaku seperti cermin untuk pahala kebajikan dan azab kejahatan, kemudian hal yang berkenaan dengan pembalasan atas kebaikan dan kejahatan harus tetap diingat - sesuatu dimana Nabi Suci datang untuk memberi tahu kita - dan aapapun balasan atas kejahatan dan pahala kebaikan terjadi dalam kehidupannya menyajikan bukti yang tak terbantah dalam menegakkan kenyataan yang tak terelakkan dari suatu kejadian istimewa dimana Quran Suci menyatakannya dalam dua ayat berikut:

21. Sesungguhnya Neraka siap menanti.
22. Suatu tempat bagi orang-orang durhaka.

Yakni, mereka yang melawan agama Islam serta risalah yang dibawa oleh nabi Suci Muhammad s.a.w. dan menunjukkan kebencian terhadap petunjuk Ilahi bahkan hingga melawannya dengan memberontak secara keras, akan menemukan Neraka yang menunggu mereka dan demikianlah akhir dari perbuatan jahatnya itu.

23. Tinggal disana bertahun-tahun lamanya.

Huqub adalah suatu periode antara setahun hingga delapan puluh tahun, sedangkan ahqab, jamak dari huqub, terbatas pada suatu masa selama sembilan tahun.

Jadi, bila kita mengambil arti huqub yang berarti delapanpuluh tahun di sini, dan ahqab menunjuk sembilan kali huqub, yakni sembilan kali delapanpuluh, maka kita akan mendapatkan waktu tidak lebih panjang dari tujuhratus duapuluh tahun. Namun, boleh jadi bahwa panjang setahun di dunia itu berbeda dengan setahun di dunia kita. Misalnya, kita telah mengetahui bahwa panjang setahun di palnet bumi kita ini jauh berbeda dengan setahun di planet Jupiter dan Saturnus, di mana setahun di sana jauh lebih lama daripada di sini, di Bumi. Begitu pula agaknya, di Akhirat, setahun akan jauh lebih lama daripada setahun di dunia. Betapa pun, apa pun yang terjadi dan berapa lama pun tinggal di neraka, pada akhirnya jelas, yakni bahwa, lamanya hukuman di Neraka itu terbatas, dan sesuai dengan itu pula, demi memenuhi kaidah pemintaan keadilan bahwa perbuatan jahat itu terbatas maka hukumannya pun juga terbatas, suatu prinsip dimana Quran Suci itu sendiri menetapkannya dengan ayat berikut ini:

Barang siapa datang dengan perbuatan buruk, ia tak akan dibalas melainkan yang setimpal dengan itu (6:161).

Jadi, balasan atas kejahatan adalah yang setimpal dengan itu, karena itu tak ada alasan mengapa perbuatan yang terbatas harus diganjar dengan siksaan yang tak terbatas karena hal itu akan bertentangan dengan kaidah keadilan.

Sebagai jawaban atas hal ini, seorang ulama tertentu dengan marah berkata dengan ketus kalau perbuatan baik juga terbatas maka pahalanya akan terbatas pula. Penulis setuju sepenuhnya dengannya tetapi menunjukkan bahwa paahala abadi terhadap amal kebaikan itu bukanlah hak manusia, melainkan suatu anugerah Yang Maha-kuasa sebagaimana Quran Suci sendir menjanjikan kepada kita: suatu pemberian yang tak ada putus-putusnya (11:108).

Menghukum seorang yang bersalah melebihi besarnya pelanggaran tidak lain adalah kejahatan, dan memberi pahala amal kebaikan melebihi ukurannya adalah suatu rahmat dan karunia. Jadi, membatasi hukuman atas perbuatan jahat adalah sari keadilan, sedangkan menerima pahala abadi terhadap amal kebaikan adalah suatu rahmat dan anugerah dari Yang Maha-kuasa.

Mendengar hal ini, ulama tersebut membalas dengan keberatan bahwa karena orang kafir itu akan dibebaskan dari Neraka, lantas apa gunanya menjadi seorang Muslim.

Atas hal ini penulis menjawab: "Saudaraku Maulawi, seandainya anda seorang Wakil Komisaris Polisi dalam suatu wilayah tertentu, dan seorang narapidana tertentu keluar dari penjara setelah menjalani hukuman selama empatbelas tahun, apakah anda akan keberatan atas dibebaskannya narapidana tersebut dan mempertanyakan apa bedanya anda dengan dia?".

Karena itu, dapatkah kita membandingkan status seorang yang dekat kepada Allah dan seorang hamba-Nya yang terpilih dengan seorang pendosa yang baru selesai menjalani siksa Neraka yang menghinakan?

24. Di sana mereka tak akan merasakan kesejukan dan tak (merasakan pula) minuman (sharaban).

Bard berarti "kesejukan" dan ini juga berarti suatu kehidupan yang mudah dan nyaman dimana shaarab berarti minuman, suatu kata yang telah menimbulkan salah konsep yang berat di kalangan banyak orang akibat memberinya suatu kesalahan konstruksi. Dalam bahasa Urdu, sharab berarti anggur tetapi anggur dalam bahasa Arab itu bukan sharab melainkan khamar. Kata sharab sebagai ungkapan sharaban tahara (suatu minuman ringan yang murni) berasal dari sharb yang berarti suatu beverage atau minuman ringan. Banyak orang, entah karena salah tafsir yang terlalu bebas, atau sejujurnya memang lalai atau karena mau membuat lelucon, menganggapnya sebagai minuman yang memabukkan

Betapa pun, ketika Nabi Yehezkiel diperintahkan dalam Quran Suci: "Lihatlah makanan dikau dan minuman dikau" (2:259), apakah ini berarti, semoga Allah mengampuni, bahwa nabi itu berjalan keliling dengan sebotol miras di tangannya? Jadi, menganggap ungkapan sharaban tahura (minuman yang murni) sebagai sesuatu yang berkaitan dengan port wine atau brendi adalah jauh dari yang dimaksud. Arti sesungguhnya yakni "suatu minuman yang murni".

Pentingnya kata tahura (murni) sudah terkenal dan dengan digunakannya untuk menggambarkan sharab, maka kemungkinan untuk memasukkan kedalamnya segala macam barang yang tak berguna atau main-main harus disingkirkan jauh-jauh.

25. Kecuali air yang mendidih dan air yang keliwat dingin.

Dengan kata lain, mereka tak akan pernah menikmati suatu keadaan yang damai dan bahagia. Kesejukan dan air adalah dua lambang kenyamanan dan kelangkaan atasnya merupakan gejala dari kesakitan serta kesulitan yang sangat. Jika mereka memperoleh air, yang merupakan barang tak ternilai bagi kehidupan manusia, maka itu kalau bukan sangat panas mendidih, yang tidak dapat diminum, atau bila mereka paksakan untuk minum maka akan membakar perutnya; atau bila dia coba meminumnya maka akan menimbulkan kesengsaraan dan rasa terbakar yang sama yang berasal dari air yang panas mendidih itu.

Seorang pakar tertentu yang melakukan ekspedisi ilmiah ke Kutub Utara telah menulis dalam sebuah buku bahwa di Laut Utara yang membeku, dimana air itu begitu dingin sehingga bisa berubah menjadi es, maka jika seseorang menyentuh sebungkah batu dengan jarinya, maka karena dingin yang sangat, jarinya akan ikut membeku.

Pendeknya, baik air itu sangat panas atau dingin berlebihan, kedua keadaan itu tidak bisa memuaskan rasa haus seseorang dan karenanya memperoleh kepuasan, ataupun dia bisa mendapatkan santunan bagi jasmaninya untuk melangsungkan kehidupannya. Hukuman ini benar-benar sesuai dengan tingkah-lakunya yang melanggar batas yang ditetapkan Allah atau sangat kurangnya ukuran kebaikannya dalam kehidupan di dunia ini. Inilah sebabnya mengapa Quran Suci merujuk hukuman ini sebagai:

26. Suatu pembalasan yang setimpal.

Ini berarti bahwa semua azab sengsara ini cocok sebagai ganjaran atas perbuatannya. Seperti halnya seorang pendosa itu mensia-siakan masa hidupnya di dunia dengan segala hal serba-boleh, maka air kehidupannya akan menjadi serba berlebihan, yakni bila tidak terlalu panas maka dia keliwat dingin, sehingga dua-duanya tak ada gunanya baginya.

Maksudnya di sini adalah agar manusia tahu, bahwa dia, dirinya sendirilah, yang menyiapkan kehidupan masa depannya dengan tangannya sendiri. Bila dia berdiri jauh dari jalan lurus yang diungkapkan oleh Allah Ta’ala, dan melakukan tingkah-laku kelewatan, maka demikian pulalah, balasan untuknya dalam kehidupannya mendatang.

27. Sesungguhnya, mereka dahulu tak takut akan perhitungan.

Akar dari semua dosa dan segala macam kelalaian terletak dalam penolakan atau keengganan manusia untuk percaya atas pertanggung-jawaban perbuatannya. Bicara secara umum, rupanya manusia itu terbawa oleh filsafat ini: "Reguklah segala kesenangan dan kemewahan yang anda bisa peroleh di dunia ini, karena tak seorangpun pernah melihat kehidupan akhirat itu seperti apa".

28. Dan mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan.

Bila manusia itu tidak peduli apapun atas pertanggung-jawaban terhadap amal perbuatannya, lantas bagaimana mereka mau menaruh perhatian terhadap ayat-ayat yang diturunkan Allah dan bagaimana mereka akan menerima kebenaran? Selanjutnya, mereka akan membenci para nabi dan rasul yang membawakan ayat-ayat Allah dan yang mengundang mereka kepada-Nya serta yang ajarannya membuat mereka tertekan. Karena itu, demi pelarian atas hadirnya rasa bersalah mereka, maka mereka men-cap ajaran nabi dan rasul itu sebagai dusta dan mereka menenteramkan hatinya dengan obat palsu yang menganggap semuanya ini tidak benar.

29. Dan segala sesuatu Kami tuliskan dalam buku.

Kitab ini sangat-sangat teliti dalam mencatat setiap kata serta tindak-tanduk dari manusia sebagaimana Quran Suci memberi tahu kita:

"Tiada ia mengucapkan suatu perkataan, melainkan di sebelahnya sudah siap seorang yang mengawasi" (50:18).

Dalam ayat lain, dinyatakan:

"Maka barangsiapa berbuat kebaikan seberat atom, ia akan melihatnya.
Dan barangsiapa berbuat keburukan seberat atom, ia akan melihatnya"(99:1-2)

Dengan perkataan lain, seperti akting seseorang itu direkam dalam sebuah film lalu dipertunjukkan kembali dalam sinema, dengan cara yang sama hasil perbuatannya akan diperlihatkan kepadanya pada hari Kebangkitan. Pula, seperti suara manusia yang direkam dalam cakram lalu dimainkan kembali, demikian juga pada hari pemberian pertanggung-jawaban, kata-katanya akan ditampilkan lagi untuknya.

Ini adalah suatu fakta yang kokoh dan bahkan hari ini sains terpaksa mengakuinya. Para pakar dan cendekiawan telah sampai pada suatu kesimpulan bahwa tak ada kata-kata atau perbuatan manusia itu yang pernah hilang. Sebaliknya, segala sesuatu tersimpan di ruang angkasa yang maha luas. Kesulitannya hanyalah bahwa kita belum memiliki perangkat yang cukup untuk menampilkan kembali rekaman itu. Hari dimana kita berhasil melakukan hal itu akan mempublikasikan suatu revolusi yang luar-biasa dalam sejarah dunia sepanjang yang kita ketahui sampai sekarang. Selanjutnya, bila kita meneliti setiap tempat tinggal atau lokal, kita akan bisa menemukan dengan keyakinan penuh mengenai siapa yang tinggal di sana di masa lampau, apa yang diomongkannya dan karya apa yang mereka telah lakukan.

Dalam hal apa pun, baik manusia di dunia bisa mengembangkan kemampuan untuk membaca catatan Ilahi ini ataukah tidak, satu hal sudah pasti, yakni bahwa dalam kehidupan mendatang, kitab ini akan disajikan kepada setiap orang, dan masing-masing orang akan bisa melihat dan membaca catatannya menyangkut dirinya sendiri.

30. Maka rasakanlah, karena Kami tak menambahkan apa pun kepada kamu selain siksaan.

Ini juga suatu ganjaran yang setimpal yang mana merupakan suatu balasan yang cocok dengan tingkah-laku serta amal perbuatan di masa lalu. Seperti halnya manusia yang menolak bertaubat atas cara hidupnya yang buruk, dan sebaliknya malah bertahan dengan ngototnya serta bertambah-tambah pelanggarannya, maka, begitu pula, siksaannya akan meningkat pada saat pembalasan. Ini tidak berarti bahwa hukuman itu akan berlangsung seumur-umur dan bahwa neraka itu tiada akhirnya, karena, seperti telah kita buktikan, lamanya neraka itu merupakan jangka waktu terbatas sebagaimana diterangkan oleh Quran Suci kepada kita dalam dua aayat terdahulu: Bertinggal di sana bertahun-tahun lamanya (78:23), dan Suatu pembalasan yang setimpal (78:26), seperti juga dalam banyak ayat-ayat lain dari Quran Suci.

RUKUK 2

31. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa akan memperoleh keberhasilan.

Taqwa berarti sangat berhati-hati daalam menjalankan kewajiban kita terhadap Allah dan sesama manusia.

Mereka yang takut kepada Allah dan menaruh penghormatan atas risalah yang dibawa oleh para nabi serta sadar akan tanggung-jawabnya terhadap amal perbuatan mereka, dan mempunyai keyakinan terhadap petunjuk Allah yang diwahyukan serta menjadikannya contoh-teladan, mereka dijanjikan dengan suatu kemenangan sempurna. Sebagai bukti atas kemenangan ini dalam kehidupannya yang mendatang, Allah Ta’ala menganugerahkan bagi orang-orang tulus pada masa Nabi Suci s.a.w. suatu kemenangan yang tak ada tandingannya dimana kebenaran atas pertanggung-jawaban terhadap amal perbuatan itu jelas nampak seperti dalam cermin yang terang. Meskipun kekurangan sumber daya serta perlawanan dari bangsa Arab dan penguasa di sekitarnya, Nabi Suci s.a.w. beserta para sahabatnya telah mencapai suatu kemenangan yang bergema ke mana-mana, baik material maupun spiritual, hal serupa tak pernah ada lagi di dunia. Sesungguhnya, adalah tetap benar bahwa prinsip-prinsip Quran Suci itu begitu berpengaruh sehingga setiap orang yang mengikatkan dirinya dalam hidup ini tanpa bayangan keraguan sedikitpun, akan memperoleh sukses baik di dunia maupun di akhirat.

32. Taman-taman dan kebun anggur.

Ayat ini menyatakan kepada kita bahwa karena keimanan dan amal salihnya maka taman-taman akan disiapkan bagi orang tulus di akhirat, yakni, suatu kehidupan yang penuh kedamaian dan kebahagiaan akan disediakan bagi mereka. Suatu taman adalah tempat tinggal yang penuh keindahan yang mekar. Inilah sebabnya mengapa kata ‘taman’ itu tidak selalu diambil secara harfiah karena ini juga berarti perumpamaan, bagi setiap persediaan untuk kehidupan yang nikmat dan tenteram di Akhirat. Suatu taman yang berbuah keimanan dan amal salih pastilah suatu ganjaran yang adil bagi orang yang baik budi, tetapi penyebutan khusus tentang anggur di sini, membawa suatu arti kiasan khusus yakni bahwa jus anggur itu berisi sejenis gula istimewa yang disebut glukosa yang menyegarkan hati dan emosi manusia. Kekhususan ini lebih jelas kejutannya dalam pengaruh anggur yang dibuat dari jus buah anggur terhadap manusia.

Karena itu, sama seperti anggur yang membangkitkan lagi emosi dan kapasitas umat manusia, begitu pula, kecintaan kepada Allah atau cintanya kepada melayani agamanya, menguatkan kemampuan ‘dalam’ manusia dan mendorong hati dan jiwanya dengan tenaga rahasia serta menyuntikkan tenaga dan kegairahan untuk berjuang dan berkurban di jalan Allah. Dengan kata lain, kecintaan kepada Allah menciptakan anggur ruhani dalam kehidupan akhirat, karena, kenyataannya, akhirat itu dibentuk dari kehidupannya di alam fana ini dan merupakan suatu penggelaran dari iman dan amal salih di dunia ini. Sesungguhnya, ini adalah fakta tak terbantah bahwa jika manusia itu tidak memiliki cinta sejati kepada Allah, maka perbuatannya tidak akan memancarkan akhlak mulia dari kegairahan, perjuangan, tanpa pamrih pribadi serta pengorbanannya yang diminta Quran Suci berulang kali agar diresapkan dalam hati manusia.

33. Dan (teman) yang muda-muda yang sebaya umurnya.

Jika kehidupan di Akhirat itu tidak ada nilai keduniawiannya lagi, lalu adakah kenikmatan yang lebih besar dalam hidup itu selain ditemani seorang isteri yang semuda usianya?

Sungguh sulit dimengerti kenapa orang-orang berkeberatan atas hal ini dan mengapa mereka mesti berfikir bahwa bagi seorang yang mulia serta tulus itu dengan diberi isteri di akhirat akan bertentangan dengan kesuciannya bahkan akan berbahaya! Jika, dalam hidup ini seseorang diberi isteri yang muda dan salih, adakah sesuatu yang kurang suci di sana? Namun terlebih lagi, kemana perginya para peerempuan di dunia ketika mereka meninggal dunia? Apakah mereka akan dilenyapkan sepenuhnya bahkan hingga benar-benar tiada, atau akankah dunia lain diciptakan bagi mereka? Apakah perempuan itu dianggap kotor hingga langit dilarang menerimanya? Untuk menerangkan mengapa tak ada kaum perempuan di surga, suatu khutbah yang aneh diedarkan yang menyatakan bahwa kaum lelaki tidak boleh masuk ke langit dimana kaum perempuan yang salihah berada!

Marilah kita periksa teka-teki kenikmatan dari kebahagiaan surga. Dengan sarana penglihatan, kita memperhatikan suatu pemandangan yang indah, tetapi agar kita mendapatkan kenikmatan darinya, manusia diberkahi dengan jiwa atau ruh untuk melakukannya, karena jiwalah yang menerima kepuasan berkat sarana berupa semua pancaindera jasmaninya. Karena alasan inilah, maka jiwa dan badan adalah partner dalam masalah perasaan dan sentimen. Jadi, pada saat jiwa atau ruh meninggalkan jasadnya, maka dia akan menerima suatu kehidupan baru yang berbeda dari serta lebih tinggi dari hidupnya kini, jadi, bila dia harus mengalami kesenangan dalam hidupnya yang baru ini, ini harus melalui indera yang sama dimana ruh dan badan saling berperan dan melalui mana, di dunia ini, ruh itu biasa menikmati kesenangannya. Dengan perkataan lain, dia akan mempertahankan kemampuannya untuk melihat, mendengar, mencium, menyentuh dan mencicipi. Ruh itu akan tetap menikmati hidup bercinta meskipun bentuknya akan lebih canggih dan lebih nikmat daripada yang dirasakan di alam fana ini. Namun, ini akan terjadi sepanjang garis berikut, alasannya adalah karena dengan cara ini bisa diperoleh kesenangan di dunia ini; di alam akhirat, satu-satunya cara bagi ruh manusia untuk mencapai ekstasi adalah jalan yang telah diajarkan kepada jasad manusia selama hidupnya yang sementara di bumi ini. Kehidupannya atau kehadirannya, apapun itu, adalah suatu gabungan dari nafsu dan sensasi. Maka dia tak dapat menyerap kebahagiaan melalui indera lain kecuali yang telah dilatih dalam hidup sebelumnya.

Inilah sebabnya dalam dunia impian dan rukyah, apa pun yang kita lihat yang sifatnya ruhani atau bukan wadag, hal itu selalu diperlihatkan dalam bentuk fisik tertentu. Misalnya, ketika kita merasakan buah ruhani, maka itu selalu dirupakan bentuk suatu buah-buahan duniawi dan kita mencicipinya dengan indera perasa kita. Bahkan meskipun kita telah menyukai buah semacam itu dalam pelbagai kesempatan di dunia ini, toh ruh atau jiwa kita hanya dapat memperoleh kenikmatannya di dunia impian, seolah buah itu datang ke mulut kita seperti buah dari dunia ini dan kita mencicipi kenikmatannya lewat indera perasa kita. Selain itu, tak ada jalan lain dimana kita bisa menikmati buah ruhani itu.

Jika dibantah bahwa hidup di akhirat itu tidak ada rasa atau indera, maka ini sama juga dengan mengingkari hidup sesudah mati, karena bila perasaan dan indera itu tak ada dalam kehidupan mendatang, maka berarti tak ada surga atau neraka, tak ada bahagia atau derita.

34. Dan gelas yang suci (dihaqa).

Dihaqa berarti gelas yang penuh dengan kesucian dan kebersihan.

Orang-orang tulus yang menjalani kehidupan suci di dunia ini pasti akan diberi satu gelas kesucian di akhirat. Fakta bahwa itu akan diisi penuh adalah suatu pertanda pasti bahwa dambaan fitrah mereka akan dipuaskan sepenuhnya dan secukup-cukupnya. Dengan kata lain, tak akan ada kekurangan atasnya dan apapun rahmat yang mereka peroleh adalah lengkap-sempurna. Tambahan pula, apapun yang diberikan untuk minumnya adalah bersih dan murni.

35. Di sana mereka tak akan mendengar cakap-kosong, dan tak pula cakap-dusta.

Apakah kesia-siaan itu? Beberapa hal itu berguna dan yang lainnya lagi merugikan, tetapi perkara yang tidak berguna dan tidak merugikan itulah disebut kesia-siaan yang tidak disukai dalam Islam, karena Islam itu ingin agar manusia membelanjakan seluruh waktunya dalam beramal salih. Seseorang bisa membantah bahwa bila di surga itu tidak kedengaran cakap-kosong, lalu kenapa disebutkan pengaruhnya yang merugikan? Begitu pula, bila sesuatu itu bahkan tak pernah terdengar di masyarakat, bagaimana hal tentang itu bisa dipertanyakan?

Ayat ini memberi contoh bagaimana sifat mulia dari kaum Muslim itu diinginkan oleh Quran Suci agar diulang-ulang dalam hidupnya. Jadi ini menggambarkan suatu lukisan dari masyarakat yang terdiri dari abdi dan individu Muslim yang tulus dan beriman, model ini digelar dimana omong-kosong bahkan tak pernah terdengar, ataupun kita terlibat sesedikit mungkin. Ini menyajikan suatu masyarakat ideal yang yang demikian terhormat sehingga bahkan di masyarakat Barat dengan budayanya yang modern dengan segala kecanggihannya tetap tidak mampu untuk membantu manusia agar mencapai tingkat semacam ini. Bahkan masyarakat Barat masa kini yang meniru model Barat terjebak dalam segala macam konvensi yang sia-sia dan omong-kosong. Betapa pun, gambaran suatu masyarakat yang tulus beriman yang bisa ditarik dari Quran Suci adaaalah menghindari usaha yang tak ada gunanya.

Sifat luhur lain yang diinginkan Quran Suci agar diingat selalu dalam fikiran kita yakni bahwa seorang mukmin itu harus mencintai kebenaran sedemikian rupa sehingga mustahil baginya untuk berkata dusta apapun yang terjadi pada keadaan sekitarnya. Haram baginya untuk berkata bohong. Dalam segala hal, seorang mukmin tak akan mengucapkan hal yang palsu.

Diriwayatkan dalam sebuah hadist bahwa Nabi Suci s.a.w. sekali waktu ditanya sebagai berikut: "Mungkinkah seorang mukmin itu pengecut?"; beliau mengiyakan. Si penanya lalu melanjutkan: "Bisakah dia seorang yang menyakitkan?" Sekali lagi, Nabi Suci setuju. Kemudian beliau ditanya: "Mungkinkah seorang mukmin itu berdusta?". Atas hal ini Nabi Suci s.a.w. menjaawab: "Seorang mukmin tak mungkin berdusta".

Jadi, dalam cahaya Quran Suci, sikap yang paling kasar adalah bicara bohong satu sama lain. Suatu masyarakat dimana penyakit ini meraja-lela tidak mungkin bisa mencapai sifat akhlak yang luhur. Jadi, model dari suatu masyarakat yang tulus yang digambarkan untuk kita adalah yang paling sublim dan berdasarkan dua prinsip ini: pertama, dalam masyarakat itu, jauh dari perbuatan yang sia-sia, bahkan omong-kosong pun tak akan terdengar, dan kedua, tingkat moralitas dan budaya dusta semaacam itu tak mendapat tempat di masyarakat.

36. Ganjaran dari Tuhan dikau, suatu pemberian yang cukup (hisaba).

Hisab berasal dari hasaba yang berarti cukup.

Karena amal perbuatan manusia itu terbatas, maka, begitu pula ganjaran bagi mereka. Begitu pula, hukuman bagi perbuatan jahat juga terbatas. Namun, mengenai pahala terbatas bagi amal salih, Quran Suci menyatakan: ‘aaaata’an hisaba(pemberian yang cukup), karenanya membuat hal itu tak ada batasnya. Yakni, balasan atas amal salih itu

dibatasi oleh keluhuran sifatnya . Tetapi karena Allah itu bebas dan sangat pemurah dalam rahmat-Nya, maka Dia memberikan pahala ini mengalir terus-menerus.

Marilah kita periksa perbedaan kedua kasus ini dimana ganjaran itu disebutkan. Ketika membicarakan kejahatan, kata jaza’an wifaqa (suatu pembalasan yang setimpal, ayat 26) digunakan, dan di sini kata-kata ‘ata’an hisaba (suatu pemberian yang cukup) digunakan, yang menandai bahwa kebaikan itu tidak hanya akan dibalas kembali sesuai timbangannya, tetapi melalui anugerah Allah dan pemberiannya yang tak terikat serta kemurahannya, maka pahala itu akan jauh melebihi ukurannya. Dalam ayat lain Quran Suci, ini mengacu kepada kata-kata berikut: ‘ata’an ghaira majdhuz (suatu pemberian yang tak ada putus-putusnya, 11:108).

37. Tuhannya langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya; Tuhan Yang Maha-pemurah; mereka tak mampu berbicara dengan Dia.

Ayat ini mengingatkan kita bahwa Tuhan kita yalah Allah, Tuhan dari langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya, Pemilik dari semua kejayaan dan keluhuran. Ini adalah satu bagian dari Pemelihara-Nya (Rububiyyat) dimana Dia telah menganugerahkan kepada manusia melalui sifat Rahmaniyyat-Nya. yakni, Pemberi dari hadiah cuma-cuma. Ini tidak diberi sebagai pahala atas perbuatan seseorang. Demikian luhur dan agung derajat-Nya sehingga tak seorang pun berwenang untuk berbicara dihadapan-Nya. Sebaliknya, demikian besar rahmat-Nya yang dikaruniakan kepada hamba-Nya yang terpilih sehingga mereka diperbolehkan untuk berdiri dihadapan-Nya dan berbicara kepada-Nya lima kali sehari. Sesungguhnya, mereka boleh berbicara kepada-Nya setiap saat yang mereka inginkan sehingga mereka bisa memohon bantuan-Nya dan memperoleh kemurahan-Nya dengan terus-menerus.

Orang-orang yang ingkar diberi tahu bahwa Tuhan mereka adalah Tuhannya langit dan bumi dan tak satu makhluk pun di langit dan di bumi yang berdaya untuk berbicara di hadapan-Nya. Sekarang ini, mereka tidak menghormati-Nya dengan penghormatan yang benar, namun mereka diperingatkan bahwa suatu hari pasti akan tiba dimana mereka akan menyaksikan terbabarnya sepenuhnya kekuatan, kejayaan dan kekuasaan-Nya. Betapa pun, pada hari itu, sebagai ganti Tuhan yang menyantuni alam semesta (Rabb), sifat-Nya sebagai Tuan dari hari Pembalasan (Maliki yaumid-din) akan terlihat dengan benderang. Berikut ini adalah gambaran dari hari itu:

38. Pada hari tatkala Ruh dan Malaikat berdiri bersaf-saf.

Ar-ruh dapat berarti jiwa manusia, tetapi di sini, dalam pandangan penulis, ini merujuk kepada malaikat yang turun membawa wahyu yang meniupkan kehidupan ruhani kepada manusia. Dengan mala’ikah berarti para malaikat yang mengilhami hati manusia kepada kebaikan. Dengan perkataan lain, pada hari Penentuan, untuk menggelar di hadapan manusia bukti yang tak terelakkan, maka akan hadir seluruh kumpulan abdi langit yang biasa digunakan untuk menerima petunjuk baginya dan melalui mana hatinya disuntik dengan himbauan mulia, sehingga tak ada ruang bagi terpidana untuk berkelit.

Kemuliaan dari Majelis pengadilan lantas diberikan pada hari itu. Tak seorang pun mampu bicara kecuali dia yang diizinkan oleh Yang Maha-pemurah dan dia tak bisa berkata apa-apa.

Ayat ini memberi kita suatu manifestasi lengkap dari Keesaan Yang Maha-kuasa dan keagungan-Nya yang sempurna. Tak disebutkan di sini adanya perantara.

Ya, hanya mereka, yang setelah mendapatkan izin, berbicara dengan kata-kata yang lurus dan jujur. Inilah ciri istimewa dari Majelis Tuan hari Keadilan. Di dalamnya, tak seorang pun berdaya atau berwenang untuk menggumamkan kata-kata tanpa seizin Yang Maha-kuasa. Di dunia ini, sifat Pemelihara dari Ilahi (Rububbiyyat) dilonggarkan, sehingga perkenan diberikan pada setiap orang untuk bermohon seketika itu juga. Namun, pada hari Kebangkitan, asma-Nya sebagai Tuan hari Kebangkitan (Maliki yaumid-din) akan tiba dan dijalankan sepenuhnya. Inilah mengapa, tanpa perkenan, tak seorang pun boleh berbicara pada hari itu.

"Berbicara dengan izin" dapat ditafsirkan dengan arti "perantara setelah diizinkan itu dihadiahkan oleh Allah". Yakni, bila Allah Yang Maha-tinggi, ingin mengampuni seseorang, dan memberi seorang hambanya yang mulia izin untuk menjadi perantara baginya dengan Tuhannya untuk permohonan yang berharga, maka hal itu bisa masuk dalam gambaran ayat "kecuali dia yang diizinkan oleh Yang Maha-pemurah dan yang berbicara dengan benar".Jadi jelaslah tanpa ragu sedikitpun bahwa perantara semacam itu sesungguhnya adalah manifestasi dari asma Allah yang pengampun. Namun, tanpa izin Allah, mustahil berbicara bahkan untuk menjadi perantara atau memberi rekomendasi.

39. Itulah Hari yang Benar; maka barangsiapa menghendaki, ia boleh mengambil perlindungan kepada Tuhannya.

Ini berarti bahwa hari itu pasti datang. Faktanya, tak ada keraguan lagi atas kehadirannya. Sungguh, ini tak terhindarkan. Jadi, siapa pun bisa mendapatkan Kemurahan Tuhan dan menemukan tempat perlindungan dengan-Nya.

Perkara yang dibahas sebagai awal dan akhir surat dalam Quran Suci adalah begitu serupa sehingga seseorang yang membacanya dengan mata jeli akan menemukan bahwa salah satu (awal atau akhir surat) adalah saling menjelaskan. Karena itu kita bisa melihat, bahwa dalam tafsir surat ini suatu pengumuman yang menggetarkan telah diserukan dan orang-orang berkeberatan atas hal itu. Setelah memberi semua alasan demi proklamasi ini, sekarang Quran Suci menyatakan pada akhir surat ini bahwa berita besar yang diumumkan pada pembukaan surat ini sungguh-sungguh benar begitu pula janji hari penggenapannya. Karenanya, perkara peka yang harus dilakukan seseorang adalah memanfaatkan pengumuman ini dan menyusun persiapan yang bulat untuk menghadap Ilahi dengan penuh percaya diri.

Quran Suci menyesali bahwa orang-orang melaayani bahkan kepada penguasa kecil-kecilan di dunia, namun sebaliknya......Dan mereka tak menghargai Allah dengan penghargaan yang pantas diberikan kepada-Nya.... (6:92) dan karenanya mereka menunjukkan pengabaian sepenuhnya atas undangan dari Se-adil-adil Hakim.

40. Sesungguhnya Kami memperingatkan kamu tentang siksaan yang sudah dekat;

Yakni, keraguan apa yang bisa timbul lagi berkenaan dengan kebenaran atas berita ini yang telah diberikan oleh Nabiyullah ketika Allah Sendiri memberi tahu kepada mereka yang ingkar, melalui Nabi-Nya ini, akan siksa yang tak lama lagi akan segera tiba. Dengan perkataan lain, penggenapannya itu sudah dekat. Di sini, aaaada suatu rujukan yang jelas dari hukuman itu yang akan tiba dengan Perang Badar, perang Parit dan penaklukan Mekkah yang pertama-tama dibawakan Allah bagi mereka yang menolak risalah untuk membenarkan kepastian dari hari Keputusan yang sesungguhnya. Dalam pelbagai peperangan ini, kebaikan mendapatkan paahalanya sedangkan kejahatan menuai pembalasannya, jadi membuktikan, tanpa ragu, fakta bahwa setiap perbuatan itu mengusung konsekwensinya masing-masing. Maka, seorang bijak adalah dia yang bisa menarik pelajaran dan peringatan dari hal ini.

(Ayat 40 berlanjut) Pada hari tatkala orang melihat apa yang telah ia lakukan oleh tangannya dahulu; dan orang kafir akan berkata: Aduh, sekiranya aku dahulu debu!

Hidup sesudah mati akan berdasarkan hasil dari amal perbuatan kita dalam hidup ini. Inilah sebabnya mengapa setiap orang akan menghadapi konsekwensi dari kelakuannya dengan mata-kepalanya sendiri. Betapa pun, manusia telah melakukan banyak kesalahan dan tersembunyi dari mata manusia, karena kebodohan atau kejahatan, dia terus-menerus melakukan perbuatannya itu, sehingga ketika berhadapan dengan pertanggung-jawabannya, begitu besar rasa malu dan penyesalannya sehingga ia ingin agar dia bisa berubah menjadi debu daripada mengalami kehinaan dan rasa malu yang diderita sebagai konsekwensinya.

Pada hari Kebangkitan, tak seorang pun bisa lolos dalam menyaksikan konsekwensi seutuhnya dari setiap tindak-tanduknya. Namun, bahkan dalam hukuman yang lebih cepat yang diterapkan terhadap kaum kafir di masa hidup nabi Suci, manifestasi ini diperagakan dengan terang benderang. Pada hari Mekkah ditaklukkan, begitu dalam penghinaan kepada kaum kafir Mekkah sehingga mereka berharap agar bumi ini terbuka dan menelan mereka. Kita harus ingat bahwa bangsa Arab itu adalah kaum yang sangat bangga diri. Besarnya rasa bangga diri ini sangat terpukul dalam peristiwa berikut ini: Pada Perang Badar, Abu Jahal, kepala kabilah Mekkah, ditaklukkan oleh dua pemuda dari Madinah dan ketika mereka mau memotong kepalanya, dia menanyai mereka: "Kalian berasal dari kabilah mana?". "Kami dari Ansar (penolong Nabi Suci dari Medinah)", jawab mereka.

Menyadari bahwa mereka itu rakyat kecil, Abu Jahal berkata kepada mereka: "Kamu tidak cukup berharga untuk meotong kepalaku. Saaaaaaya seorang bangsawan dari keluarga terhormat, maka panggilkan seseorang dari kabilah Quraish (yang terkemuka) untuk membunuhku".

Namun, para pemuda itu mengabaikan permintaan ini dan sadar bahwa mereka cenderung untuk membunuhnya, Abu Jahal mencoba taktik lain: "Baiklah, kalau kalian berkeras, tetapi ketika kaupotong kepalaku, pastikan bahwa itu terpotong agak ke bawah, sehingga kalau dijajarkan dengan kepala-kepala lain yang terpotong, punyaku akan terlihat jelas bahwa ini kepala seorang pemimpin", pintanya.

Inilah kesombongan merata yang menjadi ciri utama orang-orang itu. Namun, pada hari penaklukan Mekkah, pada saat orang-orang yang sangat sombong dan mabuk pujian itu, yang telah mengusir Nabi Suci serta para sahabatnya dari Mekkah, berdiri dalam kekalahan di hadapan Nabi Suci dan beliau bertaanya kepada mereka: "Apa yang kalian harapkan dariku?" Mereka menjawab: "Engkau adalah susu dari kebaikan kemanusiaan sehingga kami mengharap belas kasihanmu". Atas mana Nabi Suci menjawab:

"Pergilah dengan damai. Tak ada pembalasan untukmu hari ini karena aku telah memaafkan kalian sepenuhnya".

Bayangkan beetaapa kehinaan yang menyakitkan pengampunan buat mereka ini! Tidakkah mereka, dalam rasa malu dan penyesalan ini, bahwa mereka ingin agar bisa masuk ke bumi? Dan tidakkah ingatan atas kejahatan mereka di masa lalu serta kesewenang-wenangannya kembali menghantui mereka ketika mereka menyaksikan tindakan rahmat dan pengampunan oleh Nabi Suci s.a.w.? Dan tidakkah mereka mengharapkan agar saat itu bumi terbelah dan meenelan mereka?

Berita tentang hari yang dijanjikan dimana Nabi Suci memberi pengumuman akhirnya terjadi. Gambaran yang sama akan terlihat pada hari Kebangkitan, tetapi dengan ukuran yang jauh lebih agung. Ketepatan proklamasi Nabi Suci akan dibenarkan dan tiada sesuatu pun yang tertinggal dari mereka yang mengingkarinya kecuali ingin agar bisa masuk tenggelam ke dalam bumi.


This page was printed from the 'Official Website of the Ahmadiyya Anjuman Isha'at-e-Islam Lahore (Lahore Ahmadiyya Movement for the Propagation of Islam)'
located at
http://aaiil.org or http://www.aaiil.org

|| aaiil.org || || aaiil.org || || aaiil.org || || aaiil.org || || aaiil.org || || aaiil.org ||